Dewan Nasional Suluh Perempuan 2024, Olin Monteiro Beri Contoh Peran Perempuan Dalam Merawat Alam

- Penulis

Kamis, 9 Mei 2024 - 15:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caroline J. Monteiro menjadi narasumber diskusi publik di forum Dewan Nasional (DN) Suluh Perempuan 2024 di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (5/5/2024). Foto: Dok. Suluh Perempuan

Caroline J. Monteiro menjadi narasumber diskusi publik di forum Dewan Nasional (DN) Suluh Perempuan 2024 di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (5/5/2024). Foto: Dok. Suluh Perempuan

DEPOK, ADAKABAR.SITE – Caroline J. Monteiro yang akrab dipanggil Olin Monteiro, seorang aktivis perempuan dan gender memberi contoh bagaimana para perempuan berkontribusi dalam merawat bumi menjaga lingkungan.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber diskusi publik di forum Dewan Nasional (DN) Suluh Perempuan 2024 di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu (5/5/2024).

Olin menjelaskan terkait Ekofeminisme yang berasal dari kata feminisme dan ekologi politik. Ekofeminisme adalah pemikiran terkait politik ekologi feminisme dengan konsep analisis gender tentang relasi manusia dan alam dan bagaimana itu adalah satu kesatuan. Awalnya ditemukan Françoise d’Eaubonne di bukunya Le Féminisme ou la Mort (1974). Teori ekofeminisme memasukan perspektif. feminisme dalam konsep politik hijau /Green politics yang menuntut masyarakat yang egaliter, masyarakat yang berkolaborasi bersama demi alam dalam perspektif feminisme, dengan harapan tidak didominasi penguasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jadi Françoise d’Eaubonne di bukunya Le Féminisme ou la Mort (1974) atau terjemahan bebasnya kira-kira ‘jadi feminsi atau mati’ dia men-challenge pemikiran kita bahwa kalau kita tidak mengerti feminisme ngapain kita hidup, “tegas Olin.

Menurut Olin feminisme adalah bagaimana dia yang harus berpihak kepada yang direpresi atau ditindas, atau di diskriminasikan, di tinggal atau dianggap tidak ada. Visi misi feminisme itu membela yang tertindas.

“Bagaimana relasi manusia dengan alam dan itu menjadi satu kesatuan dan ada perspektif di dalamnya, tidak sekedar kita memandang alam sebagai obyek, “imbuhnya.

Baca Juga :  Penyanyi Andien Dirikan Sekolah Gratis untuk Warga Kampung Pemulung Jakbar

Olin memberi contoh di Indonesia bagaimana perempuan adat itu sangat memelihara alam, seperti mengurusi obat-obatan untuk anak sakit di rumah, pengertahuan rebusan daun yang bisa menurunkan panas dan seterusnya adalah milik perempuan.

“Perempuan dan alam itu sangat erat hubungannya, seperti di Indonesia dukun-dukun (perempuan) yang bisa menentukan kapan musim tanam bisa dimulai, dengan menghitung kapan musim hujan dan seterusnya.”

“Itu dukun-dukun perempuan di Dayak Kalimantan, Sulawesi Tengah mereka yang bisa membaca perubahan alam (musim hujan, musim tanam, waktu panen). Tidak semua orang memakai pendekatan moderinitas, ada juga yang memakai kearifan lokal masyarakat yang cocok dengan lingkungan, seperti agama lokal suku Dayak Kalimantan itu.”

“Di Bali bagaimana perspektif ajaran Hindu dalam menjaga keseimbangan harmoni dengan alam. Upacara-upacara keagamaan melibatkan persembahan dari alam seperti bunga, daun, buah, dan air yang mencerminkan rasa terimakasih kepada Tuhan atas anugerah alam.”

“Di Sumba ada Marapu dimana nilai-nilai dan kepercayaan ini lah yang menjadikan Sumba tetap lestari dan tetap terjaga alam dan budayanya, “ungkapnya panjang lebar.

Mama ALETA BA’UN, Perempuan, alam, dan tenun. Foto: ciptamedia.org

Lebih jauh Olin bercerita tentang perempuan-perempuan pemberani di Indonesia seperti Aleta Baun yang pada akhir 1990-an mengorganisir sebuah gerakan dengan tiga perempuan lainnya,  di pegunungan Mollo, TImor, NTT, berjalan kaki dari desa ke desa (beberapa perjalanan memakan waktu hingga enam jam) untuk mengumpulkan dukungan terhadap operasi pertambangan. Tindakan tersebut memicu pembalasan kekerasan terhadap banyak pengunjuk rasa, dan ia menjadi target upaya pembunuhan yang memaksanya bersembunyi di hutan bersama bayinya.

Baca Juga :  Diskusi Buku "Bebaskan Kami Berkontrasepsi", Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia
Reboisasi pengaling, kisah perjuangan perempuan adat usir-tambang pasir besi di Bengkulu. Foto: https://www.aman.or.id

Nevi dan perempuan-perempuan Masyarakat Adat Serawai Pasar Seluma, Bengkulu, 13 tahun perjuangan perempuan adat Serawai Pasar Seluma menolak keberadaan tambang pasir besi di Bengkulu. Aksi menolak tambang pasir besi mulai dilakukan perempuan adat Serawai Pasar Seluma pada tahun 2010.

Emmanuela Shinta, aktivis muda dari Dayak, Kalimantan Tengah. Foto: NHK World, Japan

Emmanuela Shinta, aktivis muda dari Dayak, Kalimantan Tengah pendiri organisasi Ranuwelum foundation bekerja untuk kampanye lingkungan, hutan dan kebakaran hutan dengan pendokumentasian.

Shinta telah berjuang untuk melindungi hutan-hutan Kalimantan dari deforestasi dan eksploitasi yang merusak. Dia terlibat dalam proyek-proyek pelestarian hutan, pendidikan lingkungan, dan kampanye kesadaran masyarakat.

Farwiza Farhan, Penjaga hutan Leuser kelahiran Banda Aceh, 1986. Farwiza Farhan adalah seorang aktivis lingkungan dan konservasionis yang namanya ramai diperbincangkan. Farwiza masuk ke dalam jajaran sosok perempuan berpengaruh menurut Majalah TIME pada TIME 100 Next 2022 kategori leaders. Perempuan yang akrab disapa Wiza ini adalah pendiri Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (Yayasan HAkA).

Farwiza Farhan, aktivis lingkungan Aceh yang masuk daftar TIMENEXT 2022. Foto: One Earth

Ia bekerja untuk konservasi ekosistem Leuser, juga program perempuan dalam hutan, kemudian juga membangun gerakan, Women’s Earth Alliance. (tp)

Berita Terkait

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia
Bahas ‘Perempuan Itu Berlawan’, Dewi Nova: Ini Buku Aksi dan Bisa Di TikTokan
Launching Buku ‘Perempuan Itu Berlawan’, Musdah Mulia: Saya Merasa Ada Lagi Kehidupan
Tantangan Pancasila Di Zaman Medsos
Prihatin Banyak Siswa Miskin Belum Dapat Sekolah Negeri, DKR Serukan Gubernur Untuk Intervensi
Penyanyi Andien Dirikan Sekolah Gratis untuk Warga Kampung Pemulung Jakbar
Ramadan: A Month of Spiritual Reflection, Devotion, and Charity
Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru