Driver Ojol Aksi 10 10, Tolak Rencana Aturan Jam Istirahat 30 Menit Tiap 2 Jam

- Penulis

Kamis, 12 Oktober 2023 - 08:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengemudi ojek online (ojol) mencari penumpang di kawasan Stasiun Cawang, Jakarta, Selasa 30 Agustus 2023. Pengemudi ojol berharap kepada pemerintah untuk segera diterbitkannya payung hukum ojol, dan legalkan. Atau mereka meminta agar bubarkan ojol apabila tidak dilegalkan. Foto: TEMPO/Subekti.

Pengemudi ojek online (ojol) mencari penumpang di kawasan Stasiun Cawang, Jakarta, Selasa 30 Agustus 2023. Pengemudi ojol berharap kepada pemerintah untuk segera diterbitkannya payung hukum ojol, dan legalkan. Atau mereka meminta agar bubarkan ojol apabila tidak dilegalkan. Foto: TEMPO/Subekti.

JAKARTA, ADAKABAR.SITE – Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) melakukan aksi 10.10 pada 10 Oktober 2023 untuk menolak sejumlah rencana Peraturan Menteri Ketenagakerjaan. Ketua SPAI Lily Pujiati mengatakan para pengemudi atau driver ojek online menolak penetapan ojol dan kurir baik motor maupun mobil, dalam hubungan kemitraan atau tenaga kerja luar hubungan kerja (TKLHK).

“Aksi ini diikuti oleh berbagai organisasi ojol se-Jabodetabek,” kata Lily kepada Tempo, Selasa, 10 Oktober 2023. Di antaranya SPAI, Maluku Online Bersatu Nusantara, Go Graber Indonesia, Pejuang Aspal Nusantara, Aliansi Ojol Indonesia, Garis Keras Maxim Jabodetabek.

Ada dua tuntutan yang disampaikan oleh SPAI. Khususnya berkaitan dengan rencana Peraturan Menteri Ketenagakerjaan ihwal hubungan kemitraan yang tengah disusun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para driver ojek online menolak bekerja 12 jam yang tidak memperhatikan kondisi fisik pengemudi. Lily berujar sistem kerja ini membuat para driver ojek online rawan mengalami kecelakaan karena mengantuk dan kelelahan. Kedua, pada driver ojek online menuntut hari libur 1 hari dalam seminggu dan istirahat 30 menit setiap 2 jam.

Baca Juga :  Hilirisasi, Pembangunan Berkelanjutan dan Penyelamatan Lingkungan

SPAI menegaskan penetapan driver ojek online sebagai mitra membuat tidak adanya kepastian pendapatan. Selain itu, menurut Lily, selama ini pengemudi selalu dirugikan karena adanya diskriminasi tarif antara layanan pengantaran penumpang dan barang atau makanan.

“Ini diperparah dengan aturan tarif Rp 5 ribu untuk pengantaran makanan,” ucapnya.

Sistem tersebut juga dinilai Lily sangat eksploitatif. Pasalnya, antar aplikator berlomba untuk  menerapkan tarif paling murah dan tarif tidak mengikuti putaran roda kendaraan. Walhasil, semua biaya bensin, waktu dan tenaga ditanggung oleh pengemudi apabila terjadi macet, penutupan jalan, banjir.

Di samping itu, Lily mengungkapkan pihak aplikator masih sewenang-wenang dalam memberi sanksi atau pembekuan akun sementara (suspend) dan PM atau putus mitra. Sanksi itu juga diikuti dengan potongan denda yang ia nilai sangat merugikan pengemudi.

Baca Juga :  Pesan Ketum Suluh Perempuan Pada Diskusi Publik dan Workshop Kewirausahaan Perempuan

“Untuk itu kami menuntut agar status mitra diubah menjadi status pekerja sehingga kami mendapatkan kepastian pendapatan dengan adanya upah minimum,” tutur Lily.

Apabila berstatus mitra, ia mengatakan para pengemudi ojek online juga bisa memiliki kondisi kerja yang layak dengan 8 jam kerja ditambah 4 jam lembur dalam 6 hari kerja. Para driver ojol juga harus memiliki hak-hak sebagai pekerja sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan.

Selain itu, menurut dia, tuntutan status pekerja adalah sebagai pengingat agar negara tidak lupa untuk hadir bagi rakyatnya. Lily berujar hal tersebut sesuai konstitusi UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Sumber : https://bisnis.tempo.co

Berita Terkait

Iuran Tapera Belum Prioritas, Ketum Forum Kebangkitan Ojol Indonesia : Benahi Dulu Skema Kemitraan
Pemerintah Harus Cabut Izin Aplikasi Gojek, Grab, Shopee, Maxim, Indriver Bila Tidak Memberikan THR Kepada Mitra Drivernya
Ubud Food Festival 2024 : Merayakan Kuliner Kaki Lima Indonesia
Hilirisasi, Pembangunan Berkelanjutan dan Penyelamatan Lingkungan
Reska Putri Praslita Sampaikan Dukungan KAI Logistik Untuk UMKM di Acara ‘Women Entrepreneurship’
Dari Guangzhou Auto Show, Kemudi Cerdas Bakal Jadi Tren Masa Depan
Pesan Ketum Suluh Perempuan Pada Diskusi Publik dan Workshop Kewirausahaan Perempuan
Nasabah PNM Berdayakan Perempuan Lewat Batik Blora
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru