Hilirisasi, Pembangunan Berkelanjutan dan Penyelamatan Lingkungan

- Penulis

Kamis, 1 Februari 2024 - 00:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat ekonomi dan politik Indonesia, Salamuddin Daeng dalam satu momen diskusi di Jakarta. Foto: Istimewa

Pengamat ekonomi dan politik Indonesia, Salamuddin Daeng dalam satu momen diskusi di Jakarta. Foto: Istimewa

Oleh : Salamuddin Daeng*

Bagaimana caranya memompa ekonomi nasional namun pada saat yang sama kita menyelamatkan lingkungan? Dua masalah seolah-olah bertetangan oleh adanya anggapan kalau mau memajukan ekonomi maka harus mengorbankan lingkungan terutama hutan. Padahal itu anggapan yang keliru dalam konteks Indonesia. Negara ini bisa maju sekaligus bisa menyelamatkan lingkungkungan hidup.

Caranya adalah melakukan hilirisasi sumber daya alam untuk menghasilkan komoditi ekspor dengan nilai tambah yang semakin besar. Kebijakan ini akan menghasilkan pendapatan negara yang makin tinggi dan menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang makin luas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apakah itu akan menyelamatkan lingkungan? Tentu saja! Dengan hilirisasi maka eksploitasi SDA bisa dibatasi. Apa yang membatasi yakni kebutuhan industri nasional itu sendiri. Indonesia hanya akan melakukan eksploitasi SDA sesuai dengan jumlah kebutuhan industrinya. Jadi pengerukan kekayaan alam bisa dibatasi, ijinnya bisa dibatasi, kapastitas produksimya bisa dibatasi, sesuai dengan kapasitas industri dan daya dukung lingkungan.

Apa yang terjadi selama ini? Sebelum usaha industrialisasi atau hilirisasi dijalankan? Indonesia melakukan eksploitasi dan memproduksi bahan mentah untuk ekspor, kapasitasnya tidak terbatas, ekspor yang sebesar-besarnya untuk mendapatkan devisa. Padahal semakin besar produksi, semakin ekspor harga semakin jatuh. Komoditas ekspor Indonesia dikontrol asing, harganya diatur negara industri, ya ujung-ujungnya harganya murah. Lalu Indonesia terus memperbesar eksploitasi SDA dan ujung-ujungnya lingkungan rusak.

Memberi Pada Dunia

Apa yang tejadi di Indonesia selama ratusan tahun sebenarnya harus disadari bahwa negara ini telah memberi banyak apa yang dimiliki bagi pembangunan dunia, bagi kemajuan industri di negera-negara barat, bahkam bagi kejayaan mereka dalam keuangan dan perdagangan. Sehingga apa yang terjadi di Indonesia sekarang, semisal kerusakan lingkungan, maka pihak global, perusahaan multinasional dan negara Industri maju harus ikut juga bertanggung-jawab terutama dalam usaha usaha pemulihan lingkungan di masa mendatang sesuai dengan perjanjian internasional.

Coba kita lihat datanya bagaimana kontribusi Indonesia terhadap perdagangan komoditas. Indonesia merupakan produsen tembaga ke-9 terbesar di dunia, urutan pertama produsen nikel terbesar di dunia, urutan ke-13 produsen bauxite di dunia, urutan ke-2 produksi timah di dunia, urutan ke-6 produksi emas di dunia, urutan ke-16 produksi perak di dunia, urutan ke-11 produksi gas alam di dunia, urutan ke-4 produsen batu bara di dunia, produksi CPO (minyak sawit) terbesar atau urutan 1 di dunia, urutan ke-8 penghasil kertas di dunia, urutan ke-22 penghasil minyak di dunia, urutan ke-2 produsen kayu di dunia, dan lain sebagainya.

Ada banyak kegunaan minyak sawit mentah. Mulai dari industri farmasi, kosmetik, makanan dan lainnya. Sebagai salah satu produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia, Indonesia sangat agresif dalam mengekspor produknya. Sumber Foto: kickrate.com

Indonesia memiliki cadangan besar dalam gas alam, batu bara, minyak, tembaga, emas, timah, bauxite, nikel, timber, serta kekayaan hayati dan biodiversitas yang besar. Sekarang Indonesia mendapat julukan sebagai climate super power. Jadi dengan kekayaan alam oksigen kita yang melimpah, bisa menjadi kunci bagi penyelamatan iklim global. Penyelamatan iklim ini sedang didorong melalui strategi investasi, perdagangan dan keuangan iklim. Skema yang digunakan adalah transisi energi, penurunan emisi dan perdagangan karbon. Semuanya menguntungkan Indonesia.

Baca Juga :  Innovations in Business Models: Disruptive Technologies and Emerging Trends

Sekarang Indonesia akan terus memberi pada dunia baik memberi komoditas perdagangan bernilai tambah, juga memberi oksigen pada dunia dengan melakukan usaha-usaha siknifikan di bidang lingkungan hidup, terutama melakukan usaha reforestasi. Usaha ini menuntut komitmen bersama global untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia melalui usaha hilirisasi sumber daya alam.

Meyakinkan Barat

Saat ini kita menghadapi tantangan besar baik dari dalam maupun dari luar negeri. Tantanganya adalah membangun kembali Industri nasional. Pihak luar tidak menghendakinya karena mereka meletakkan Indonesia adalah penyedia bahan mentah murah untuk menopang industri di negara maju. Sementara dari dalam negeri belum satu pandangan dalam usaha hilirisasi dikarenakan kepentingan ekonomi dan politik yang berbeda-beda. Masih banyak pihak yang menikmati ekspor bahan mentah atau raw material meskipun itu merugikan bangsa dan negara.

Namun tantangan yang paling besar memang datang dari dunia barat. Eropa mengajak sekutu-sekutunya menggugat Indonesia ke WTO. Indonesia dianggap melanggar prinsip perdaganan bebas. Pembatasan ekspor bahan mentah sumber daya alam yang dilakukan Indonesia dipandang sebagai gangguan bagi pasar bebas dan dipandang sebagai bentuk pembatasan perdagangan. Menghadapi hal tersebut Indonesia telah mengajukan upaya banding.

Jokowi bersumpah akan ajukan banding terhadap putusan WTO terhadap larangan ekspor bijih nikel. Dalam satu kesempatan Presiden juga mengatakan negaranya “tidak akan menghentikan” kebijakan tersebut, juga larangan ekspor bahan mentah dapat diperluas ke bauksit. Photographer Andre MalerbaBloomberg

Pihak eropa kurang menyadari bahwa usaha Indonesia melakukan pembatasan ekspor adalah usaha untuk membangun industri di dalam negeri. Usaha ini sebenarnya adalah strategi kunci dalam menahan laju eksploitasi bahan mentah untuk ekspor yang jika dibiarkan maka laju kerusakan lingkungan Indonesia tidak akan terkendali. Bayangkan saja bahan mentah Indonesia menjadi rebutan perusahaan multinasional dari perusahaan besar sampai perusahaan menengah. Betapa parah kerusakan lingkungan pada akhirnya.

Perlu diketahui bahwa sumber daya alam Indonesia terutama mineral dan bahan tambang itu sebagian besarnya ada di kawasan hutan. Jika usaha membatasi ekspor SDA bahan mentah tidak dilakukan maka itu akan berkorelasi dengan meningkatkan deforestasi di Indonesia. Jika itu terus berlanjut maka dampak dari kerusakaan hutan tidak hanya akan dialami Indonesia, akan tetapi oleh seluruh dunia, mengingat Indonesia adalah paru-paru dunia.

Dengan kebijakan Industri nasional atau hilirisasi maka seharusnya negara-negara eropa dapat datang ke Indonesia untuk melakulan investasi dalam rangka membangun Industri. Jadi dengan demikian maka perusahaan perusahaan eropa dapat mengirim barang-barang yang bernilai tambah tinggi ke negeri-negeri mereka. Indonesia tentu sangat membuka diri bagi investasi dari negara manapun di atas prinsip azas perlakuan yang sama sebagaimana yang diatur dalam UU penanamam modal Indonesia.

Baca Juga :  Driver Ojol Aksi 10 10, Tolak Rencana Aturan Jam Istirahat 30 Menit Tiap 2 Jam

Pembangunan Berkelanjutan

Usaha menahan laju kerusakan lingkungan di Indonesia dan di seluruh dunia adalah dengan mendorong agenda pembangunan berkelanjutan. Usaha semacam itu di Indonesia dapat dilakukan dengan mengurangi laju deforestasi, menurunkan emisi dan membangun lingkungan industri nasional yang ramah lingkungan. Hanya dengan membangun industri nasional, maka Indonesia dapat menahan laju kerusakan lingkungan terutama hutan, menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan menambah kas negara atau uang pemerintah. Industri atau pengolahan adalah kata kunci dalam menahan laju kerusakan lingkungan tersebut.

Usaha membangun industri nasional bukan usaha yang baru. Sejak lama sejak Indonesia merdeka telah berencana untuk bertransformasi menjadi negara industri. Namun usaha tersebut selalu mengalami hambatan politik yakni pergantian kekuasaan dari era Sukarno, lalu digantikan Suharto, lalu berganti era reformasi yang kesemuanya selalu mendistorsi usaha negara untuk menjadi negara industri. Rencana-rencana yang digagas pemerintahan sebelumnya tidak dapat berlanjut pada pemerintahan baru atau pemerintahan berikutnya. Keberlanjutan telah menjadi sesuatu yang sangat sulit.

Usaha meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi hilirisasi sumber daya alam yang dilakulan pemerintahan saat ini adalah hal yang harus berlanjut dan tidak dapat dihentikan. Bukan hanya sebatas hilirisasi sumber daya alam tambang yang berada di bawah payung hukum UU Mineral dan Batubara (Minerba), namun juga diperluas kepada komoditas lainnya. Indonesia telah melakukan hilirisasasi sawit dan akan berlanjut ke gasifikasi batubara.

Calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan GIbran Rakabuming Raka dalam satu acara mengikuti debat di JCC, Jakarta, Jumat (22/12/2023). Foto: Antara

Salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yakni nomor urut 02 dari tiga pasangan kandidat yang bertarung telah menetapkan rencana tertulis akan melakukan hilirisasi 21 komoditas strategis. Ini tentu langkah yang perlu didukung bagi pembangunan ekonomi dan penyelamatan lingkungan secara menyeluruh.

Jika melihat sejarah maka usaha membangun industrialisai akan terpulang pada usaha Indonesia mengatasi hambatan politik. Konsolidasi politik melalui persatuan nasional bagi pembangunan industri nasional melalui hilirisasi harus menjadi agenda bersama elite politik. Mereka harus rela mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan bagi agenda nasional ini, tidak hanya sebagai usaha memompa ekonomi namun juga sebagai usaha mendukung pembangunan berkelanjutan, menyelamatkan lingkungan hidup Indonesia bagi penyematan iklim global. Mudah mudahan. (*)

* Penulis adalah Peneliti Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Berita Terkait

Iuran Tapera Belum Prioritas, Ketum Forum Kebangkitan Ojol Indonesia : Benahi Dulu Skema Kemitraan
Pemerintah Harus Cabut Izin Aplikasi Gojek, Grab, Shopee, Maxim, Indriver Bila Tidak Memberikan THR Kepada Mitra Drivernya
Ubud Food Festival 2024 : Merayakan Kuliner Kaki Lima Indonesia
Reska Putri Praslita Sampaikan Dukungan KAI Logistik Untuk UMKM di Acara ‘Women Entrepreneurship’
Dari Guangzhou Auto Show, Kemudi Cerdas Bakal Jadi Tren Masa Depan
Pesan Ketum Suluh Perempuan Pada Diskusi Publik dan Workshop Kewirausahaan Perempuan
Driver Ojol Aksi 10 10, Tolak Rencana Aturan Jam Istirahat 30 Menit Tiap 2 Jam
Nasabah PNM Berdayakan Perempuan Lewat Batik Blora
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru