Jepang Hapus Stigma ”Perempuan Cerdas Tidak Menikah”

- Penulis

Kamis, 13 Juli 2023 - 13:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SCHOOLGIRLS, wearing surgical masks, cross a street at lunchtime in Kyoto, western Japan Nov. 19, 2014. Foto: REUTERS

SCHOOLGIRLS, wearing surgical masks, cross a street at lunchtime in Kyoto, western Japan Nov. 19, 2014. Foto: REUTERS

ADAKABAR.SITE – Yuna Kato, mahasiswa tahun ketiga di Institut Teknologi Tokyo, Jepang, sebenarnya ingin meniti karier di bidang penelitian sains. Akan tetapi, ia khawatir kariernya segera berakhir begitu ia berkeluarga, apalagi kalau sudah memiliki anak. Seluruh anggota keluarganya, terutama nenek dan ibunya, mencoba menjauhkannya dari dunia sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Mereka menganggap perempuan yang berkarya di bidang STEM akan terlalu sibuk bekerja. Saking sibuknya bekerja, bisa-bisa perempuan itu lupa dengan keluarga atau susah berpacaran sehingga semakin sulit menemukan suami.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Nenek dan ibu saya sering memberitahu saya kalau ada pekerjaan di luar bidang-bidang STEM yang masih bisa saya lakukan kalau saya ingin membesarkan anak,” kata Kato, Rabu (12/7/2023). Sampai sejauh ini Kato masih bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya dan berkarier di dunia sains.

Banyak calon insinyur perempuan yang terpaksa memilih jalan berkeluarga dan meninggalkan karier hanya karena stigma sosial. Ini yang sekarang membuat Pemerintah Jepang pusing. Di bidang informasi dan teknologi saja, Jepang akan mengalami kekurangan 790.000 pekerja pada tahun 2030 dan sebagian besar karena kurangnya sumber daya perempuan.

Akibatnya, para ahli memperingatkan, Jepang akan mengalami penurunan inovasi, produktivitas, dan daya saing. Padahal, Jepang, yang merupakan negara ekonomi terbesar ketiga di dunia, selama ini bergantung pada perkembangan teknologi.

”Ini jelas akan merugikan Jepang. Jika suatu negara tidak memiliki keseimbangan jender, teknologi yang dihasilkan tidak akan sempurna,” kata Yinuo Li, pakar biologi molekuler asal China. Li menjadi salah satu model boneka Barbie sebagai tokoh panutan perempuan di bidang STEM.

Baca Juga :  'Mendengar Bahasa Rusia Membuat Saya Sakit': Bagaimana Perang Telah Mengubah Sastra Ukraina

Saat ini, menurut data dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Jepang menempati urutan terakhir di antara negara-negara kaya karena hanya memiliki 16 persen mahasiswi di jurusan teknik, manufaktur, dan konstruksi. Dari tujuh perempuan, hanya ada satu yang menjadi ilmuwan. Padahal, perempuan Jepang mendapat skor tertinggi kedua di dunia dalam bidang matematika dan ketiga dalam bidang sains. Untuk paritas jender secara keseluruhan, peringkat Jepang turun tahun ini ke rekor terendah.

Berbenah

Guna mengatasi kesenjangan ini, Jepang sedang berbenah. Untuk tahun akademik yang dimulai pada 2024, belasan universitas—termasuk Institut Teknologi Tokyo—akan menerapkan seruan pemerintah untuk membuka kuota bagi mahasiswa perempuan bidang STEM. Ini sangat berkebalikan dengan kondisi Jepang sebelumnya.

Sebuah penyelidikan tahun 2018 menemukan, pernah ada sekolah kedokteran di Tokyo yang sengaja menurunkan nilai tes masuk calon mahasiswa perempuan hanya supaya bisa menerima lebih banyak calon mahasiswa laki-laki. Alasan kampus itu pada waktu itu, perempuan nanti berhenti bekerja juga setelah memiliki anak dan menyia-nyiakan pendidikan mereka.

Untuk menunjukkan perubahan sikap, Pemerintah Jepang beberapa bulan lalu membuat video berdurasi 9,5 menit. Isinya menunjukkan kepada kalangan pendidik dan masyarakat bagaimana ”bias bawah sadar” menghalangi anak perempuan untuk mengejar studi STEM. Dalam satu skenario ada aktor yang berperan sebagai guru sekolah yang memuji seorang siswa karena ”pandai matematika, meskipun kamu perempuan”.

Baca Juga :  Pengukuhan TKD DKI Jakarta Wajibkan Menang Signifikan Satu Putaran Untuk Prabowo-Gibran

Pernyataan ini membuatnya merasa tidak normal menjadi perempuan ahli matematika. Ada skenario lain yang menunjukkan seorang ibu melarang putrinya untuk mengejar karier di bidang teknik karena ”bidang pekerjaan itu didominasi laki-laki”. Bekerja sama dengan sektor swasta, Biro Kesetaraan Jender Jepang juga mengadakan lebih dari 100 lokakarya dan acara STEM yang khusus menyasar mahasiswa perempuan. Salah satu lokakarya belajar dari para insinyur mobil sport Mazda.

Kini semakin banyak sekolah dan perusahaan, termasuk Mitsubishi Heavy Industries dan Toyota, yang menawarkan beasiswa kepada mahasiswa perempuan yang mempelajari bidang STEM untuk menarik bakat. ”Kelangkaan perempuan insinyur benar-benar tidak wajar ketika mengingat fakta bahwa perempuan jumlahnya lebih banyak ketimbang laki-laki. Jika kita kekurangan insinyur, kita akan ketinggalan dan tidak bisa memberikan apa yang dibutuhkan konsumen,” kata pejabat sumber daya manusia di Mitsubishi Heavy Industries, Minoru Taniura.

Panasonic juga melihat banyaknya keuntungan jika mengembangkan teknologi dengan sudut pandang perempuan. Salah satunya untuk pengembangan mesin roti yang sebagian besar penggunanya perempuan. Salah satu perempuan insinyur senior di Panasonic, Kyoko Ida, bisa memahami perempuan-perempuan yang disurvei untuk pengembangan mesin roti itu karena ia perempuan.

Wakil Kepala Institut Teknologi Tokyo Jun-ichi Imura mengakui kurangnya keragaman mahasiswa ternyata berdampak buruk. ”Keanekaragaman adalah sumber inovasi. Kalau kita lihat inovasi Jepang dalam beberapa dekade terakhir, tidak terlihat bagus. Kita harus berubah dan perlu memikirkan lagi apa yang harus kita lakukan sekarang,” ujarnya.

(KOMPAS)

Berita Terkait

‘Mendengar Bahasa Rusia Membuat Saya Sakit’: Bagaimana Perang Telah Mengubah Sastra Ukraina
Eropa Berjuang Mengalahkan Kecanduannya Terhadap Plastik. Mengapa Amerika Tertinggal Jauh?
4 Gaya Hidup Orang Monako Yang Bikin Panjang Umur dan Minim Stres
Chingu Amiga: Kisah Sukses Bagi Anak, Tetapi Tidak Bagi Ibu
Thailand Mengajarkan Warisan Budaya Melalui Es Krim
Ameca, Robot Sosial Humanoid Menyatakan Tak Punya Rencana Curi Kerjaan dan Berontak Melawan Manusia
Unifying the World Through Soccer: The Global Impact of the World Cup
The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah
Berita ini 10 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru