MF Nurhuda Yusro Sepakat Pentingnya Istitha’ah Kesehatan Jamaah Haji

- Penulis

Minggu, 10 September 2023 - 19:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MF Nurhuda Yusro tengah memberikan paparan di acara

MF Nurhuda Yusro tengah memberikan paparan di acara "Penyuluhan Manasik Haji Sepanjang Tahun" di Kabupaten Pekalongan, Minggu (10/09/2023). Foto: ADAKABAR.SITE

JAKARTA, ADAKABAR.SITE – MF Nurhuda Yusro sepakat usulan Kementerian Agama untuk menetapkan Istitha’ah kesehatan haji terlebih dahulu sebelum pelunasan oleh jamaah. Hal ini dikarenakan masalah Istitha’ah kesehatan seringkali menjadi persoalan dalam pelaksanaan ibadah haji.

Hal tersebut disampaikan MF Nurhuda dalam rilis resminya kepada ADAKABAR.SITE pada Minggu (10/09/2023).

“Pengalaman pemberangkatan haji selama ini, jamaah melakukan pelunasan terlebih dahulu, baru melakukan pemeriksaan kesehatan. Inilah yang membuat masalah karena petugas merasa sungkan jika tidak meloloskan Istitha’ah kesehatan jamaah haji,” kata anggota Komisi VIII DPR RI ini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nurhuda berharap tahun 2024 perlu ditetapkan kebijakan pemeriksaan kesehatan bagi calon jamaah haji sebagai tahapan utama sebelum dilakukan tahapan berikutnya terutama bagi jamaah haji lansia.

Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag) RI, pada musim haji 2023 terdapat 773 jemaah haji wafat atau tertinggi sejak 2015 dan dari jumlah tersebut sebanyak 643 jemaah berusia di atas 60 tahun serta 109 lainnya di bawah 60 tahun. Sebanyak sekitar 77 orang diketahui dirawat yang terdiri dari di Madinah (38 orang), Makkah (31 orang), dan Jeddah (8 orang).

Dikutip dari website Kemenag, dalam musim haji 2023 terdapat 61.536 jemaah Indonesia masuk kategori lanjut usia atau lansia. Jumlah itu hampir 37 persen dari total jemaah haji Indonesia yang berjumlah 221.000 orang yang terdiri atas 203.320 jemaah haji regular dan 17.680 jemaah haji khusus. Indonesia juga mendapat kuota tambahan sebanyak 8000 orang meliputi 7.360 jamaah haji regular dan 640 jamaah haji khusus.

“Oleh sebab itu, untuk menekan tingginya angka kematian dan jamaah yang dirawat di rumah sakit, pemerintah perlu mengevaluasi pola pelunasan pembayaran biaya perjalanan ibadah haji. Sehingga penting bagi jamaah haji melakukan tes kesehatan dulu baru pelunasan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Kapan Musim Hujan Tiba? Ini Prediksi BMKG

Menurut Nurhuda, Ibadah haji diwajibkan bagi setiap Muslim dan Muslimah yang mampu (Istitha’ah).

Suasana penyuluhan manasik haji oleh Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan. Tampak MF Nurhuda Yusro tengah memberi paparannya. Foto. ADAKABAR.SITE

“Istitha’ah adalah istilah dalam agama Islam yang merujuk pada kondisi atau kemampuan seseorang untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah di Mekah, Saudi Arabia. Istitha’ah sangat penting karena menjadi salah satu syarat utama dalam kewajiban beribadah haji bagi umat Muslim,” terang anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Konsep istitha’ah mencakup beberapa aspek yang harus dipenuhi, seperti memiliki bekal finansial yang mencukupi untuk biaya perjalanan haji dan keluarga yang ditinggalkan, memahami tata cara manasik haji, hati yang ikhlas, sabar, dan bersyukur, serta dalam kondisi kesehatan mental dan fisik yang memadai.

Istitha’ah dibagi menjadi dua jenis, yaitu Istitha’ah Mubasyirah, berupa kemampuan seseorang untuk melaksanakan haji dan umrah secara mandiri tanpa kesulitan berarti. Lalu, Istitha’ah Ghoiru Mubasyirah, yang mengizinkan seseorang dengan kondisi finansial yang cukup untuk mewakilkan orang lain untuk melaksanakan haji dan umrah atas namanya.

Istitha’ah dalam menjalankan ibadah haji telah diatur dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya tanggal 2 Februari 1979 yang memfatwakan: “Orang Islam dianggap mampu (Istitha’ah) melaksanakan ibadah haji, apabila jasmaniah, ruhaniah, dan pembekalan memungkinkan ia untuk menunaikan tanpa menelantarkan kewajiban terhadap keluarga.”

“Istitha’ah menjadi salah satu syarat wajib haji, yaitu mampu secara finansial dan kesehatan. Secara finansial, calon jamaah dikatakan Istitha’ah jika memiliki cukup harta selama melakukan perjalanan haji serta mampu memberikan keperluan keluarga yang ditinggalkan selama di Tanah Suci,” terangnya.

Baca Juga :  Dari Guangzhou Auto Show, Kemudi Cerdas Bakal Jadi Tren Masa Depan

Sedangkan, Istitha’ah kesehatan jamaah haji telah diatur dalam Permenkes No 15 Tahun 2016. Jamaah dianggap Istitha’ah dari aspek kesehatan ketika memiliki kemampuan fisik dan mental sehingga mampu menjalankan ibadah haji sesuai dengan syariat agama Islam.

Seharusnya setiap jamaah mengerti bahwa ketika dirinya tidak Istitha’ah secara kesehatan, maka tidak wajib baginya melaksanakan ibadah haji. Hal ini penting diberikan pemahaman, sehingga masyarakat tidak menganggap bahwa pemerintah menghambat mereka untuk beribadah.

“Sangat disayangkan jika jamaah yang sakit memaksakan diri berangkat ke Tanah Suci, dan setibanya di sana justru tidak mampu melaksanakan ibadah haji sebagaimana mestinya,” ujarnya lagi.

Ia menambahkan, ada tiga hal yang membuat jamaah haji tidak memenuhi syarat Istitha’ah kesehatan, diantaranya adalah penyakit yang bisa membahayakan jamaah haji itu sendiri, gangguan jiwa berat, dan penyakit yang tidak mungkin bisa disembuhkan.

Ada empat keadaan Istitha’ah kesehatan haji. Pertama, memenuhi syarat Istitha’ah kesehatan haji. Kedua, memenuhi syarat Istitha’ah kesehatan haji dengan pendampingan. Ketiga, tidak memenuhi syarat Istitha’ah kesehatan haji untuk sementara. Keempat, tidak memenuhi syarat Istitha’ah kesehatan haji.

Bagi calon jamaah haji yang berada pada kondisi poin ketiga, maka masih bisa diberangkatkan setelah penyakitnya sembuh. Dalam hal ini, calon jamaah haji ditunda keberangkatannya dan diundur ke dalam kloter berikutnya.

“Seharusnya jamaah haji yang memiliki penyakit menular atau penyakit lain seperti dimensia (lupa ingatan) tidak boleh diberangkatkan ke tanah suci karena mereka tergolong kelompok orang yang tidak Istitha’ah (mampu) menjalankan serangkaian ibadah di Tanah Suci,” pungkas Nurhuda mengakhiri. (ip)

Berita Terkait

Tingkatkan Gizi Anak dan Cegah Stunting Sejak Dini, Partai Prima Bagikan Susu Sehat Untuk Warga Jakarta
Realisasikan Program Prabowo Gibran, Partai Prima Jakarta Gelar Tebus Sembako Murah Kepada Warga Kurang Mampu
Debat Cawapres, Ketua Partai Prima Jakarta: Gibran Menang Meski ‘Diserang’
Tanggapi Debat Capres, Wakil Ketua TKD Prabowo Gibran Sumsel: Prabowo Tegas Tapi Tetap Santuy
Hadiri Nobar Debat Capres, Ketua Partai Prima Jakarta Puji Penampilan Lugas Prabowo
Resmikan Posko Rakyat Adil Makmur, PRIMA Sumsel Pastikan 60 Persen Kemenangan Prabowo Gibran
Pengukuhan TKD DKI Jakarta Wajibkan Menang Signifikan Satu Putaran Untuk Prabowo-Gibran
Setelah Jakarta, Giliran Bekasi Aksi Bela Palestina
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru