Tantangan Pancasila Di Zaman Medsos

- Penulis

Selasa, 3 Oktober 2023 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lukman Hakim. Foto: ADAKABAR.SITE

Lukman Hakim. Foto: ADAKABAR.SITE

Oleh Lukman Hakim, Analis Kedai Ide Pancasila

Belum hilang dalam benak persitiwa penganiayaan oleh Mario Dandy, baru-baru ini, terjadi perundungan di lingkungan sekolah di Cilacap yang mengakibatkan korban mengalami patah tulang. Selain memperlihatkan perilaku kekerasan kedua kasus itu sama-sama diunggah melalui media sosial dan menjadi viral.

Fungsi media sosial bukan hanya menjadi tempat berkomunikasi, media sosial kini juga jadi platform ajang berbagi informasi, baik yang bersifat pribadi maupun publik. Media sosial bahkan sudah menjadi wadah untuk beropini, berkomentar dan berdikusi atas topik-tpik tertentu. Pada soal ini media sosial mempunyai fungsi yang sangat besar dan mampu mengubah perilaku masyarakat dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Oleh karena itu media sosial mempunyai dua sisi, positif dan negatif. Sisi Negatif dari media sosial merupakan tantangan bagi Pancasila.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikut ini adalah dua tantangan utama Pancasila di zaman medsos sekarang ini.

Pertama, perilaku menyimpang. Tak dapat dipungkiri bahwa kecepatan arus informasi membuat orang lebih mudah menyebarkan informasi tanpa melihat informasi itu benar atau salah. Setiap orang ingin menjadi yang terdepan dan pertama menyebarkan infomasi, apalagi informasi yang menarik dan menjadi perhatian banyak orang. Membagikan informasi secara belebihan atau oversharing berpotensi melanggar norma dan menyebabkan keresahan di masyarakat karena materi yang disebarkan tidak benar alias hoaks. Banyak kasus kekerasan yang diunggah melalu media sosial oleh pelakunya sendiri. Banyak perilaku dari anak muda yang tidak menghargai orang tua diunggah di media sosial, perilaku flexing (gemar pamer harta kekayaan di sosial media), prank (perbuatan jahil yang mengerjai orang dengan tujuan menghibur orang lain) berlebihan hingga penipuan dan tindak kekrasan seksual semua melibatkan media sosial yang sangat mudah dilakukan oleh siapapun.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengidentifikasi sebanyak 425 isu hoaks yang beredar di website dan platform digital dalam periode triwulan pertama tahun 2023. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan pada triwulan pertama tahun 2022 yang mencapai 393 isu hoaks. Total sejak bulan Agustus 2018 sampai dengan 31 Maret 2023, catatan Kementerian Kominfo sebanyak 11.357 isu hoaks. Data ini memperlihatkan batapa banyak perilaku yang melanggar etika sudah menjadi kebiasaan yang akhirnya dipermaklumkan. Perubahan perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai luhur bangsa ini merupakan tantangan bagi nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga :  Pengukuhan TKD DKI Jakarta Wajibkan Menang Signifikan Satu Putaran Untuk Prabowo-Gibran

Kedua, menyebarnya paham radikalisme. Media sosial merupakan alat bagi pihak dan kelompok sebagai saluran pendidikan dan propaganda bagi isu dan paham radikalisme dengan menyasar warganet, terutama kalangan milenial dan generasi Z yang menjadi kelompok terbesar pengguna media sosial.

Menggunakan media sosial mereka menyebarkan paham radikalisme yang dikemas dalam beragam jenis konten untuk disebarkan agar mendapatkan pengikut dan simpatisan. Tak jarang mereka menggunakan narasi-narasi keagamaan (SARA) untuk menarik simpati warganet. Saking massifnya propaganda mereka paham radikalisme dengan mudah tersebar luas tanpa adanya sekat geografis maupun demografis. Apalagi Indonesia sekarang ini tengah memasuki tahun-tahun politik menjelang pemilu 2024.

Data menunjukan bahwa pada periode Juli-Agustus 2023 sedikitnya 174 akun dan konten yang terindikasi mengandung indoktrinasi serta penyebaran paham radikalisme telah di takedown atau diblokir askesnya oleh Kemeninfo.

Solusi Pancasila Sakti

Kesaktian Pancasila di era digital ini benar-bena diuji, berhasil atau tidaknya sangat bergantung dengan para pembuat kebijakan dan masyarakatnya. Seiiring dengan perkembangannya, teknologi (media sosial) akan terus mengalami penyesuaian dan adaptasi membentuk satu keseimbangan yang dapat diterima oleh semua orang. Hal yang penting justru pada proses menuju keseimbangan tersebut setiap orang harus pandai menyaring dan menentukan pilihan yang tepat dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Pada tahap inilah Pancasila dibumikan, ditanamkan pada setiap hati nurani masyarakat melalui peran negara dan peran serta masyarakat. Oleh karena itu nilai Pancasila

Baca Juga :  Equity and Access in Indonesian Education: Addressing Disparities

harus dikemas dengan baik yang sesuai dengan perkembangan zaman. Nilai Pancasila dibumikan dengan cara-cara yang tepat agar nilai-nilainya tetap terjaga dan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Pancasila harus dibawa oleh aktor-aktor individu maupun kelompok yang mempunyai integritas dan mampu menularkan pemahaman yang baik atas Pancasila ke khalayak luas.

Aktor yang paling bertanggung jawab adalah negara, katakanlah melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang memiliki tugas merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila. Selain itu BPIP juga melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan, juga melaksanakan penyusunan standardisasi pendidikan dan pelatihan, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

Materi, aturan dan regulasi yang dihasilkan badan ini harus dapat dihilirisasi pada tingkat implementasi di kehidupan masyarakat baik dunia maya (medsos) dan dunia nyata. Maka perlu ada aktor-aktor atau kelompok-kelompok masyarakat yang mau dan mampu mengemban untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sesuai perkembangan jaman dan situasi kondisi obyektif di masyarakat.

Selain itu dibutuhkan pola kolaborasi (gotong royong) antara akor pemerintah dan aktor dari kalangan masyarakat dalam menjalankan penyebarluasan nilai-nilai Pancasila yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kolaborasi ini nantinya akan melahirkan kader-kader Pancasila yang betul-betul punya integritas, baik dari kalangan pembuat kebijakan (elit politik) maupun dari kalangan masyarakat. Karena hanya dengan dan oleh kader-kader Pancasila yang berintegritaslah nilai-nilai Pancasila dapat membumi dan menjadi panduan hidup berbangsa dan bernegara. Pada saat itulah Kesaktian Pancasila benar-benar terbukti dan menjadi solusi yang akan menjadi dasar bagi Indonesia Emas 2045. ***

Berita Terkait

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia
Dewan Nasional Suluh Perempuan 2024, Olin Monteiro Beri Contoh Peran Perempuan Dalam Merawat Alam
Bahas ‘Perempuan Itu Berlawan’, Dewi Nova: Ini Buku Aksi dan Bisa Di TikTokan
Launching Buku ‘Perempuan Itu Berlawan’, Musdah Mulia: Saya Merasa Ada Lagi Kehidupan
Prihatin Banyak Siswa Miskin Belum Dapat Sekolah Negeri, DKR Serukan Gubernur Untuk Intervensi
Penyanyi Andien Dirikan Sekolah Gratis untuk Warga Kampung Pemulung Jakbar
Ramadan: A Month of Spiritual Reflection, Devotion, and Charity
Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 09:43 WIB

Diskusi Buku “Bebaskan Kami Berkontrasepsi”, Siap Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Hak Kesehatan Reproduksi di Indonesia

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:24 WIB

Untuk Apa Makan Siang Gratis di Sekolah Bagi Semua Anak Setiap Hari?

Sabtu, 10 Februari 2024 - 11:31 WIB

Belajar dari Revolusi Putih di India

Senin, 16 Oktober 2023 - 15:08 WIB

Krisis Iklim ‘Tidak Netral Gender’ : PBB Menyerukan Agar Kebijakan Lebih Fokus Pada Perempuan

Senin, 4 September 2023 - 20:50 WIB

Dokter Anjurkan Tambal Gigi Meski Lubang Kecil

Selasa, 11 Juli 2023 - 19:15 WIB

RS Premier Jatinegara Beri Layanan Perawatan Mata Komprehensif Lewat Eyecentric Clinic

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:36 WIB

Exploring the Nutritional Benefits of Fruits in a Healthy and Balanced Diet

Rabu, 29 Maret 2023 - 02:46 WIB

The Art of Public Speaking: Tips and Techniques for Delivering a Powerful Presentation

Berita Terbaru